MAHASISWA HARUS BERANI BERKATA JUJUR DAN MERDEKA DARI KORUPSI

Logo_Tel-U.svg_“Korupsi seperti penyakit. Untuk mengatasi korupsi harus ditangani orang yang ahli. Penindakan itu cause lead tapi tidak menyelesaikan masalah. Jadi lebih baik mencegah dari pada mengobati,” kata Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri Sekretariat Kabinet Robby Arya Brata dalam diskusi di Jakarta, Selasa (7/10/2014) yang dikutip dari media online http://www.kompas.com.

Korupsi dapat dikatakan juga sebagai benalu sosial yang merusak struktur pemerintahan dan menjadi penghambat utama pembangunan. Oleh karena itu, korupsi sudah saatnya ditanggulangi secara tuntas dengan menyadarkan generasi muda terutama mahasiswa yang mempunyai potensi besar sebagai pelopor dan patriot anti korupsi.

Langkah awal gerakan penyadaran mahasiswa dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan karakter berupa menanamkan nilai kejujuran dalam bertindak dan edukasi atau seminar anti korupsi di kampus. Gerakan ini tentunya harus mendapat dukungan dari pihak Universitas, seperti menjadikan mata kuliah anti korupsi sebagai mata kuliah pilihan dalam membangun gerakan anti korupsi di kampus.

Mata kuliah anti korupsi diharapkan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa terhadap jenis dan macam korupsi diantaranya berdasarkan motif perbuatannya maupun macam-macam korupsi. Hal ini ditujukan agar mahasiswa memiliki bekal pengetahuan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 yang mengelompokkan korupsi menjadi tujuh kelompok yakni merugikan keuangan Negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

Setelah melakukan gerakan penyadaran, maka langkah berikutnya adalah menjaga dan memelihara gerakan anti korupsi ini tetap eksis di kampus. Caranya yaitui dengan mendeklarasikan komunitas mahasiswa anti korupsi. Tujuan deklarasi ini, diharapkan agar komunitas mahasiswa anti korupsi menjadi virus positif menularkan nilai kejujuran dan budaya bersih dari korupsi dan prilaku koruptif terutama di kampus. Contoh yang sederhana, korps atau komunitas anti korupsi dapat melakukan kampanye ujian bersih dan anti plagiat, membuat media propaganda seperti baliho, spanduk, poster maupun melalui seminar anti korupsi di kampus..

Selain itu, mahasiswa yang menjadi agen perubahan sudah selayaknya berperan aktif memberikan dan menyebarluaskan ilmu atau pengetahuan anti korupsi dan dampak yang sangat buruk ke lingkungan sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA maupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Kesempatan korupsi lebih meningkat seiring dengan semakin meningkatnya jabatan. Sebagai kaum wanita dan nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga, para mahasiswi tentunya tentunya sangat diharapkan berperan aktif untuk menjaga moralitas kaum Bapak seandainya sang suami nantinya menduduki jabatan sebagai pejabat publik. Ia juga harus bisa menjaga sikapnya dengan tidak menampilkan prilaku yang konsumtif yang dapat merubah jiwa baik kaum Bapak (suami) menjadi jiwa yang materialistik, kapitalistik dan hedonistik.

Sudah saatnya mahasiswa mendeklarasikan dirinya sendiri bersih dari korupsi dan bertanggung jawab ikut serta menyadarkan lingkungan yang terkecil di kampusnya masing-masing. Mereka harus berani berkata jujur dan memproklamasikan dirinya merdeka dari korupsi. Komunitas mahasiswa ini diharapkan dapat lebih peka dan ikut serta dalam memberantas korupsi dan bertindak preventif sebagai generasi pemutus mata rantai rezim korupsi di Indonesia.

Tidak cukup deklarasi saja. Komunitas mahasiswa ini harus tumbuh dan melahirkan rasa memiliki (sense of belonging) dalam hal penyadaran dan pembentukan karakter mahasiswa lainnya sehingga mereka bersih dari mental koruptor dan tidak terbentuk perilaku koruptif beserta praktek-prakteknya sejak di bangku pendidikan tinggi. (imansus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *